Kamis, 28 Oktober 2010

cerpen 2

Andiku Sayang. . .

   Aku masih menunggunya. Tepat disaat ulang tahunnya yang ke-24. Aku masih berdiri ditengah keramaian orang-orang yang hilir mudik keluar dari sebuah pabrik elektronik dimana tempat orang yang kutunggu juga bekerja di tempat itu. Jam tangan bewarna merah yang dengan setia terus bertengger di tangan kananku sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh lima menit malam. Mataku masih mencari.
   “Maaf lama. Udah dari tadi ya?” Seorang laki-laki menegurku tepat disaat aku memang sedang menunggunya.
   “Udah lumutan nih, nungguin dari tadi.” Kataku kesal.
   “Maaf deh. Namanya juga orang kerja, jadi nggak bisa seenaknya. Lagian pabrik ini juga bukan pabrik orang tuaku. Mungkin kalo pabrik ini punya orang tuaku, aku bisa bolos sekali-kali.” Laki-laki itu berusaha untuk memberi alasan padaku.
   “Oke. Dimaafkan. Sekarang kita mau kemana?” tanyaku pada laki-laki yang sebenarnya bernama Andi itu.

 
   “Sebelumnya, maaf lagi ya. Hari ini aku nggak bisa ngajak kamu jalan. Aku dapat tugas rumah dari atasanku dan harus selesai besok. Jadi, entar malam aku harus begadang untul menyelesaikan tugas itu.”
   “Terus ulang tahunnya?” kataku dengan lantunan yang agak manja.
   “Ulang tahun? Siapa yang ulang tahun?” Tanya Andi dengan herannya.
   “Kamu tau!”
   “Maaf sayang. Aku nggak bisa ngerayain ulang tahunku sama kamu. Lagipula uangku juga lagi cekak.”
   “Aku yang traktir. Anggap aja sebagai kado.”
   “Ya nggak bisa gitu dong! Nanti aku dibilang cowok nggak bertanggungjawab lagi.”
   Aku hanya bisa menunduk dengan pasrah saat mendengar berbagai macam alasan yang diucapkan oleh Andi. Perkataan Andi benar-benar memelas untuk tidak ada seorang pun yang akan mengganggunya pada malam ini. Tapi  aku tetap ingin bersamanya meskipun ia melarangku sekalipun.
@           @        @

Aku dan Andi terpaut umur lima tahun. Kami memulai berhubungan sejak tiga tahun yang lalu. Berawal dariku yang terpesona melihat Andi saat diangkot. Ketika itu aku sedang menuju Halim untuk mengunjungi saudara ibuku yang sedang sakit. Sedangkan Andi, pada saat itu ia baru pulang kerja. Karena kulihat wajahnya yang manis itu sangat mempesona, ku ambil fotonya secara diam-diam dengan handphoneku (paparazzi gitu deh!). Tanpa kusadari, sebenarnya ia pun memperhatikanku. Saat Andi turun dari angkot, kartu nama khusus pegawai miliknya terjatuh. Kulihat sejenak tanpa memperhatikan namanya, dan yang kulihat hanyalah fotonya. Dengan cepat segera ku berikan pada Andi yang sudah hampir pergi. Ia pun mengucapkan terima kasih sambil mengeluarkan senyum yang begitu manis bagi seorang cowok.
Aku selalu berharap aku bisa bertemu dengannya setiap kali aku ke Halim. Tapi ternyata tidak. Dan aku tidak putus asa untuk itu. Saat aku pergi ke Halim untuk ke sekian kalinya, aku sengaja berangkat sore tepat saat banyak pabrik pada jam keluar. Termasuk pabriknya Andi. Sengaja aku menunggu di depan pabriknya yang juga merupakan tempat mangkalnya angkot 06. Satu persatu kuperhatikan orang-orang yang keluar dari pabrik. Aku masih menunggunya.
Ternyata penantianku itu memberikan hasil yang berarti. Andi keluar, tepat disaat itu juga Andi melihatku.
“Cewek yang waktu itu ya?” Tanyanya padaku.
“Alin. Mas siapa namanya?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Andi. Mau pulang ya?”
“Nggak. Mau kerumah saudara yang di Halim.”
“O…mau bareng?”
“Ehm… boleh deh.”
Tak kusangka Andi menawarkan aku untuk pergi bersama.
Selama setahun setelah pertemuan dengan Andi, aku semakin sering menyempatkan diri untuk pergi ke Halim dengan harapan selalu bertemu dengannya setiap jam pulang kerja. Tanpa aku sadari Andi mempunyai perasaan khusus padaku yang sebenarnya sama dengan perasaanku. Tepat saat umurku menginjak sweetseventeen, Andi menyatakan perasaannya dan aku pun menyambutnya.
@           @        @

Aku masih menunduk sedih saat menemani Andi menyelesaikan tugasnya ditempat kosnya. Aku memaksa Andi untuk mengajakku ke tempat kosnya, karena entah kenapa hari ini aku ingin terus bersama. Meskipun sebenarnya Andi menolak keras saat aku memohon untuk menemaninya.
Andi terlepas dari tugasnya. Ia mulai menatapku. Tangan Andi yang besar dan kuat itu mengangkat wajahku agar aku bisa menatapnya. Tapi kutundukkan kembali wajahku itu dengan mimik yang memelas. Andi makin tidak tahan dengan wajahku yang seperti itu. Tangan dinginnya membelai pipiku yang juga dingin. Perlahan ia pun ikut tertunduk. Hela nafasnya kian berasa di sekitar wajahku. Tak lama, kurasakan hangatnya bibir Andi yang menempel dibibirku. Bibirnya kembali terlepas, dan saat itu juga aku mulai menatapnya.
“Ini udah cukup sebagai kado ulang tahun. Kehadiran Alin, dan pengertian Alin selama ini, udah buat aku merasa nggak perlu lagi menerima kado yang special. Maaf kalo aku terus-terusan bikin Alin jadi sedih. Andi sayang banget sama Alin. Andi nggak mau ngeliat Alin sedih karena Andi. Ehm… Gini aja deh, kita rayain ulang tahun Andi pas Andi terima gaji. Mau?”
“Nggak usah deh. Andi kan harus ngasih uang ke orang tua , Andi juga harus bayar uang kos, terus uangnya juga dipakai buat uang transport setiap Andi kerja. Lebih baik nggak usah deh. Andi kan juga perlu nabung buat masa depan. Lagian aku salah, aku terlalu maksa Andi untuk ngerayain ulang tahun yang sebenarnya nggak mau Andi rayain.”
“Maaf ya sayang.”
“Iya, sama-sama. Udah malem nih, aku pulang dulu ya. Kamu jangan terlalu dipaksain banget kerjanya! Kalo udah ngantuk, langsung tidur.”
“Oke. Aku anter kedepan ya.”
“Nggak usah. Nanti makan waktu lama. Kerjaan kamu nggak kelar nanti.”
“Ya udah aku anter sama pintu aja.”
Belum sempat aku membuka pintu, Andi menarik tanganku dan memelukku. Dan aku mulai merasakan betapa sayangnya Andi padaku. Rasanya tak ingin terlepas dari pelukannya itu.
@           @        @

‘SayaNg, udh BoBo bLum? Tgs ku udH kLaR niCh. mKa`a aku lgsG sMs kMu. eMg udH mLm bgt siH, udH pGi maLaHan. cZ udH jam 2 LwaT diKit.
                                                                                      
Sender: Andi’

   ‘Akhr`a sMs jGa. Dri td aKu nuNggu sMs dRi kMu. Tpi bRu skRg sMs`a. Tdi aku mW sMs kMu tp g jd, tKut gaNggu. Y, udH kLo udH kLar tgS`a, Lgsg tduR aja YaH!! Biar g bGun k`siaNgan.
                                                                                                   Sender: Alin’

   ‘Tpi aKu kaNgen sM kMu. . . .
                                                                                                   Sender: Andi’

   ‘Lho??? Tdi kN kTmu. Lma pula.        
                                                                                                   Sender: Alin’

   ‘Y udH kLo gTu. Met bobo ajA yaH!! mAAp udH gaNggU…
                                                                                                   Sender: Andi’

   ‘Andi SayaNg jgN mRh doNg! Aku tKt kMu k`capek`aN, trZ kLo sKit gMn?
                                                                                                   Sender: Alin’

   Setengah jam sudah aku menunggu balasan sms dari Andi. Tapi tak kunjung dibalas juga. Aku takut Andi benar-benar marah. Hasratku yang ingin meneleponnya terhenti ketika kulihat jam dinding sudah menunjuk angka dua lebih empat puluh dua menit. Ku ubah perasaanku. ku yakinkan bahwa Andi kecapekan dan langsung tidur makanya dia tidak sempat untuk membalas sms dariku. Mataku pun mulai ikut terpejam seiring datangnya pagi.
@           @        @

   Dua hari setelah ulang tahunnya Andi, aku masih menunggunya di depan pabrik untuk memastikan perasaannya yang tidak marah padaku. Dan benar. Saat Andi keluar dari pabrik dan melihatku sedang menunggunya, ia segera menghampiriku. Senyum manis mengembang dari bibirnya Andi yang menandakan bahwa ia memang tidak marah padaku.
   “Hari ini Andi baru terima gaji. Makan bareng yuk!” ajak Andi dengan semangatnya.
   “Ehm…nggak usah! Andi tabung aja uangnya! Kan lebih bermanfaat.”
   “Yakin nggak mau aku traktir?”
   “Yupz…”
   “Es krim?”
   “Kalo Cuma es krim sih nggak apa-apa.”
@           @        @

   “Thanks ya, Ndi, es krimnya.”
   “Oke sama-sama. Besok aku jemput ya ke kampus?”
   “Kok? Tumben bisa jemput? Nggak kerja? Besok masih hari jumat lho dan biasanya kamu kan lembur.”
   “Nggak. Aku dapat cuti gratis dari atasanku karena aku termasuk salah satu pegawai yang rajin.”
   “O…ya udah kalo gitu. Kalo hari jumat bisaanya aku keluar jam empat sore dari kampus.”
   “Oke.”
@           @        @

   Andi menunggu dengan sabar didepan kampusku. Baru kali ini aku melihatnya tampak sangat berbeda. Ia mengenakan kaos berwarna putih dipadu dengan jaket berwarna biru  dan celana jeans berwarna senada dengan jaket yang ia pakai.
   Tapi tunggu dulu!
   Andi tidak seperti bisaanya menunggu di tempat parkir motor. Ia pun duduk disalah satu motor di parkiran itu. Motor siapa yang ia duduki itu?
   “Yuk!” ajak Andi sambil mengenakan helm dan mulai menyalakan motor yang tadi diduduki olehnya. Aku masih terheran.
   “Ini motor siapa?” tanyaku.
   “Gimana? Ini hasil kerja ku lho selama beberapa tahun. Akhirnya uang yang aku kumpulkan sanggup aku belikan motor. Emang nggak bagus banget sih, tapi paling nggak, motor ini bisa digunakan.”
   “Nggak bagus apa, Ndi? Ini sih motor merek terbaru yang kamu beli. Terus? Uang tabungan kamu habis dong?”
   “Masih ada kok. Aku kasih ke orang tuaku.”
   Aku semakin sayang pada Andi. Selain wajahnya yang manis sebagai seorang cowok, Andi juga baik dan pekerja keras. Dia juga sangat penyayang, mungkin terutama padaku setelah sayangnya pada orang tua dan juga adiknya.
   Baru beberapa detik ku duduk di atas motor barunya Andi, seorang kawan memanggilku. Namanya Aya.
   “Lin…Mau balik ya? Nggak nonton futsal dulu?”
   “Ehm…ya. Tapi aku nggak bisa nonton. Udah ada janji.” Aya melihat Andi, dan mengerti apa maksud perkataanku.
   “O, ya, tadi kata si Akbar, pemain futsal kita kurang lho. Si Rafael lagi sakit, jadi dia nggak bisa ikut maen deh. Udah gitu anak-anak yang lain pada nggak bisa. Ada yang emang bener-bener nggak bisa, ada yang emang Cuma alasan doang. Tapi intinya, mereka yang ditawarin buat ngegantiin posisinya Rafael pada bilang kalo mereka takut kebobolan bola. Soalnya Rafael kan kipper yang handal tuh, udah gitu kampus kita menang terus kalo ada pertandingan. Mereka pada takut menjatuhkan reputasi futsal kampus kita kalo misalnya kebobolan.”
   “Terus? Kosong dong posisi kipernya? Sayang banget tuh!” Aku terlupa dengan Andi yang sudah bersiap untuk pergi dari tadi. Ia pun angkat bicara.
   “Boleh ikut?” Tanya Andi pada Aya.
   “Ikut? Ikut apa, Ndi?” tanyaku heran.
   “Main futsal.”
   “Emang kamu bisa jadi kipper? Maaf lho, Ndi. Bukan maksud hati lho!”
   “Dulu waktu SD, SMP, dan SMA, aku ikut ekstrakulikuler sepak bola. Dan kebetulan aku jadi kipper. Di pabrik juga kalo lagi nggak ada kerjaan, aku dan kawan-kawan ijin main di lapangan. Dan untungnya boleh.”
   “Wah, kebetulan tuh! Lin, bolehkan pinjam cowok lu dulu? Ntar biar gua yang bilang dan minta ijin sama pelatih futsalnya.” Tanya Aya dengan semangatnya. Dan aku hanya bisa mengangguk pelan sambil terheran-heran. Andi pun mematikan motornya dan bergegas turun setelah aku turun duluan.
   Perasaanku agak kecewa karena hari ini kami nggak jadi pergi bareng. Jarang-jarang Andi ngajak aku pergi bareng, karena biasanya Andi takut ada apa-apa di jalan. Lucu juga sih ada cowok yang pikirannya kaya gitu. Tapi mau gimana lagi? Itulah Andi.
   Aku pun duduk dikursi penonton bersama Aya, yang sudah teriak-teriak padahal pertandingan belum dimulai. Sejujurnya aku penasaran. Penasaran bagaimana seorang Andi menjadi kipper pada pertandingan bola. Karena yang ku tahu, Andi jarang berolahraga karena jadwal kerjanya yang lumayan padat. Bahkan terkadang lembur sampai larut malam. Jadi ku pikir, Andi jarang ada waktu untuk berolahraga. Dan aku pun baru tahu kalau dia suka bola. Selama ini, Andi nggak pernah membicarakan tentang bola padaku. Tentang group favoritnya atau pemain idolanya. Saat pertandingan futsal nanti berakhir, akan ku tanyakan hal itu pada Andi.
   Pertandingan pun dimulai. Sorak-sorai mulai bergema ke seluruh penjuru kampus. Ku lihat Andi berjaga di depan gawang. Ada kekhawatiran bahwa gawang itu akan kebobolan bola dari lawan. Tapi tidak. Belum lama pertandingan berjalan, salah satu pemain lawan ada yang berusaha menembakkan bola ke gawang kami namun ditepis oleh Andiku sayang. Hampir saja ia terhuyung saat menepis bola.
   Aku tak pernah melihat wajah serius Andi saat bermain bola. Dan kali ini aku melihatnya dengan posisinya di depan gawang. Andi terlihat begitu bersemangat dan menghalau setiap bola yang mendekati dan hampir masuk ke gawangnya.
   Pada menit yang sudah berjalan lama, bola kembali hampir memasuki gawang yang Andi jaga. Namun bisa di tepis olehnya meskipun harus tepat berbenturan dengan tiang gawang di sebelah kiri. Penonton yang melihatnya langsung berteriak, mereka juga ketakutan sama sepertiku. Takut terjadi apa-apa pada Andi. Tapi Andi masih terus berdiri. Masih terus menjaga gawang, walaupun sempat kulihat sesekali dia memegangi kepalanya yang terbentur tadi. Meskipun Andi terlihat masih bisa berdiri, tapi aku merasakan perasaan yang tak enak. Terus ku perhatikan Andi di setiap menit pertandingan itu berjalan.
   Dan benar dugaan perasaanku tadi. Beberapa menit saat babak selanjutnya  dimulai, bola menghampiri gawang dan Andi langsung bersiap untuk menangkap bola tersebut. Alhasil memang tertangkap, namun Andi harus jatuh tersungkur dan mengalami luka pada dagunya. Dengan terhuyung ia berdiri. Pemain futsal kampusku menghampiri dan menanyakan keadaannya. Dan ternyata Andi masih ingin terus bermain dengan kondisi seperti itu.
   Untuk menit yang kesekian kalinya, Andi masih berhasil menangkap bola. Dan kali ini bola yang ditepisnya memantul kembali kedaerah lawan. Lawan pun terus menyerbu. Hingga akhirnya menendangkan bola kembali ke gawang kami. Andi terus tersungkur saat menangkap dan menepis bola. Disaat Andi belum terbangun dari jatunhya itu, bola sudah kembali dengan cepat menuju gawangnya. Andi pun berusaha berdiri. Namun belum seutuhnya dia berdiri, ia sudah berhasil menangkap bola yang hendak ditendang oleh pemain lawan. Namun naasnya, Andi yang kena tendangan sebagai gantinya. Tendangan keras itu tepat pada tulang pipi Andi yang sebelah kiri. Entah disengaja atau tidak, pemain lawan tidak bisa menghentikan diri saat bola sudah ditangkap oleh Andi. Mereka kira bola tidak secepat itu dapat ditangkap oleh Andi yang ternyata berusah maju lebih dari depan gawangnya, hingga akhirnya mereka tak bisa memberikan rem pada kakinya sendiri.
   Peristiwa itu tepat saat peluit ditiup. Pertandingan berakhir. Dengan cepatnya aku langsung berdiri dan berlari menuju lapangan untuk menghampiri Andi yang sudah lebih dulu dikerumuni pemain satu timnya. Saat ku hampiri, Andi tersenyum dan berusaha berdiri tegak dengan bantuan temanku. Aku lemas saat melihat darah mengalir dari dagunya. Dan aku membelai bagian tulang pipi Andi yang terkena tendangan tadi.
   “AU!!! Jangan dipegang, Lin!”
   “Maaf, maaf.” Aku segera membantu temanku yang memapah Andi menuju UKS. Sementara yang lain, membawakan tas Andi dan mengucapkan selamat pada para pemain futsal yang sudah menang dalam pertandingan kali ini. Terutama pada Andi yang menggantikan posisi Rafael. Ia terlihat begitu hebat lebih dari Rafael, pikirku.
   Setelah selesai di obati, Andi segera mengajakku untuk pergi. Namun ku tolak karena keadaannya yang masih belum stabil. Kawan-kawanku pun mengucapkan terima kasih pada Andi yang sudah bermain dengan hebat. Mereka menjadi akrab satu sama lain.
   Sebagai ganti rencana jalan-jalan kami hari ini, kawan-kawanku mentraktir kami di kantin kampus sebagai tanda terima kasih. Lebih tepatnya terima kasih pada Andi. Dengan perban di pipi dan dagunya, Andi masih saja bisa tersenyum. Tapi ku tahu bahwa itu pasti sangat sakit. Terlihat saat Andi tertawa, ia langsung memegangi dagunya.
@           @        @

   “Pasti sakit banget.” Tanyaku pada Andi saat kami sampai di tempat kosnya Andi.
   “Yah, nggak sakit banget sekarang. Tadi kan udah di kasih obat penahan rasa sakit sama temanmu yang di fakultas kedokteran itu tadi.”
   Suasana hening sesaat. Nggak seperti bisaanya terjadi. Aku ingin bertanya pada Andi, tapi aku takut. Tapi kuberanikan diri untuk bertanya pada Andi.
   “Ndi, kamu kok nggak pernah cerita tentang seputar bola sama aku? Tentang group dan pemain idola kamu.”
   “Pertama, karena kamu perempuan. Jarang ada perempuan yang ngerti tentang bola. Maaf ya bukannya menyinggung. Yang kedua, karena dulu waktu aku kecil sampai aku kuliah, aku belum punya televisi karena bapak mengutamakan sekolah anak-anaknya dulu. Baru setelah aku kerja, aku baru bisa punya televisi sendiri. Dulu aku lebih sering nonton dirumah tetangga. Itupun dibatasi hanya nonton film kartun. Jadi aku sendiri juga nggak tau group dan pemain idolaku itu siapa. Yang ketiga, aku selalu main bola diam-diam bersama kawan-kawanku karena kami selalu dimarahi setiap kali ketahuan main bola hingga larut malam. Itukan buruk, jadi nggak perlu kuceritakan.”
   “Terus pas kuliah, kamu masih main bola kan?” Tanyaku dengan semangatnya pada Andi. Namun Andi tertunduk diam. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya selama beberapa menit.
   “Aku nggak main lagi waktu kuliah.”
   “Kenapa?”
   Andi kembali terdiam dalam waktu yang cukup lama lebih dari waktu yang tadi. Aku bersabar menunggunya untuk bercerita. Ia menghela napas, dan mulai bercerita.
   “Dulu aku sempat tertabrak mobil pick up. Dan aku mengalami patah tulang di bagian kaki. Dan nggak tanggung-tanggung, dua-duanya kakiku patah. Kanan dan kiri. Waktu itu saat aku kelas 3 SMA, dua bulan sebelum aku ujian nasional. Itu gara-gara main bola juga. Waktu itu setelah pulang sekolah, dan saat itu juga sedang hujan, aku meninggalkan tasku di pos ronda tempat aku dan kawan-kawanku biasa ngumpul. Lalu kami bermain bola di jalan kecil yang hanya bisa di lalui oleh satu mobil di dekat pos ronda itu. Tau kan bagaimana keadaan jalan dikampung?” Aku mengangguk dan Andi meneruskan kembali ceritanya.
   “Saat aku bermain bola di tengah hujan, ada mobil pick up yang lewat dijalan itu. Karena saat itu hujan deras, kami nggak melihat adanya mobil, dan mobil itupun nggak membunyikan klaksonnya. Saat aku hampir saja menendang bola, mobil pick up itu menabrakku dari belakang dan berhenti seketika. Kawan-kawanku langsung menghampiriku yang saat itu pingsan. Mereka bilang, mereka langsung memarahi pengendara mobil itu dan meminta pertanggung jawabannya. Dan syukurnya, orang itu mau bertanggung jawab. Orang tuaku langsung syok saat tau keadaanku dirumah sakit. Mereka kira aku nggak akan punya kaki lagi, karena aku adalah satu-satunya harapan dikeluargaku. Kurang lebih satu setengah tahun aku menggunakan kursi roda sampai aku kuliah. Kawan-kawan di tempat kuliahku mengira aku ini cacat bawaan dari lahir. Padahal nggak. Dan yang paling menyedihkan, aku kira, aku hampir nggak lulus UN. Gara-gara ada materi yang belum sempat aku pelajari karena sakit. Untungnya aku lulus, dan ternyata Cuma mata pelajaran yang materinya belum sempat aku pelajari itu aja yang nilainya pas-pasan. Makanya aku butuh waktu lama untuk kembali ke tengah lapangan kaya tadi. Dan untungnya kakiku juga udah sembuh seutuhnya.”
   Suasana hening kembali menyelimuti. Andi memperhatikan kedua kakinya sambil mengingat-ingat masa lalunya itu.
   “Jadi, sekarang udah tau kan kenapa Andi nggak pernah cerita soal bola sama Alin?”
   Aku mengangguk pelan. Ku pandangi Andi yang sesekali memegangi dagu dan pipinya yang luka. Ku coba mengusap pipinya, namun di tepis oleh Andi.
   “AU!! Sakit Andi. Kok di tepis sih. Kan Cuma usap-usap aja.”
   “Aduh maaf, bukannya gitu. Tapi tadi pas kampus kan udah di pegang sama Alin, dan Andi teriak kan? Berarti sakit kalau dipegang orang. Maaf ya. Andi nggak maksud buat mukul kok.”
   Aku cemberut sementara Andi tersenyum dengan menawan. Tangannya yang besar dan kuat menggenggam tanganku. Awalnya ku tolak. Tapi ia meraihnya kembali sambil mengucapkan kata maaf. Aku pun luluh.
   Angka di jamku sudah menunjuk angka delapan lebih lima menit. Andi ingin mengantarku pulang, namun ku tolak. Ya, apalagi alasannya kalau bukan karena lukanya gara-gara main futsal tadi. Namun Andi bersikeras ingin mengantarku. Dan aku masih saja menolaknya dengan lembut. Sampai akhirnya aku harus marah dengan sifat keras kepalanya Andi.
   “Aku bilang nggak usah dianter. Aku udah gede. Bisa pulang sendiri! Kamu urus aja tuh lukamu! Nggak usah mikirin aku dulu!”
   Sebenarnya tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata seperti itu dengan nada yang kasar. Tapi mau apa lagi, Andi bersikeras. Namun sebenarnya aku juga merasa bersalah karena mungkin aku keterlaluan, berbicara dengan nada keras dan kasar tanpa memperhatikan perasaannya yang sebenarnya khawatir padaku.
   Andi hanya diam, tak ada lagi komentar dan pembelaan. Andi maafkan aku, batinku. Ia pun mengantarku sampai di depan pintu. Tak ada sepatah kata yang ia ucapkan. Sepertinya Andi marah. Atau ia takut aku akan berkata lebih kasar lagi padanya. Tak tahan karena diamnya Andi, Aku angkat bicara.
   “Kok diem? Nggak mau ucapin, hati-hati sayang?”
   “Oh, iya lupa. Hati-hati sayang! Maaf Andi nggak bisa anter. Ntar kalo Andi maksain anter Alin, Alin tambah marah. Atau jangan-jangan malah bisa diputusin juga.” Ucap Andi dengan nada datar namun penuh dengan perasaan bersalah. Harusnya aku yang merasa bersalah karena terlalu keras padanya yang selama ini selalu lembut padaku.
   “Aku nggak marah. Aku Cuma khawatir aja sama luka Andi. Biar Cuma di dagu sama pipi, tapi kan tetep aja sakit. Jangan lupa dirawat ya lukanya! Alin pamit pulang. Love you, Andi.” Entah kenapa setelah mengucapkan kata-kata terakhir itu, dengan spontan Aku mencium pipi sebelah kanan Andi. Sementara itu yang dicium Cuma bisa diam terpaku sambil memegangi pipinya yang baru saja dicium. Lama sekali.
   Aku hanya bisa geleng-geleng kepala saat pergi meninggalkan Andi. Lucu dengan tingkahnya yang terpaku seperti itu. Ketika aku mulai tak terlihat lagi dari tempat berdirinya , ia segera tersadar bahwa aku sudah pergi jauh. Senyumnya kembali mengembang dengan indah dibibirnya. Namun setelah itu, ia tergeletak begitu saja didepan tempat kosnya. Nafasnya terengah-engah seperti sesak didada dan sudah ditahan sejak lama. Seseorang yang lewat dengan seketika panik dan memanggil warga sekitar.
@           @       @
              
Itu kenangan paling indah saat aku dengan Andi dulu. Kenangan disaat aku pacaran dengannya. Aku tau waktu saat itu terjadi tak mungkin kembali lagi. Dan Andi juga tak akan kembali lagi seperti dulu. Tak akan ada Andi yang polos, lugu, dan baik hati. Tak akan ada Andi yang perhatian dan penyayang. Tak akan ada lagi Andi yang lembut.
Ya, Andi sudah tenang ditempatnya sekarang. Tempat yang tak mungkin bisa aku jamah. Sebuah tempat yang membuatnya tenang dan hanya tinggal menunggu waktu kapan aku akan menyusulnya.
Batu nisan itu tertulis tanggal lahirnya dan tanggal perginya ia saat meninggalkanku. Andi sudah meninggal. Ia pergi dan tak kembali. Aku terlalu bodoh untuk hal ini. Aku tak pernah sadar bahwa selama ini Andi memiliki penyakit yang kronis. Jantung. Ternyata jantung Andi tidak kuat untuk melakukan aktivitas yang berat. Termasuk bermain bola. Aku selalu terusik. Kenapa dulu aku membolehkannya bermain bola? Menjadi kipper menggantikan Rafael. Seandainya dulu Andi bercerita padaku. Terkadang aku menyesalinya, tapi aku sadar bahwa mungkin ini adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan tak ingin Andi terlalu menderita dengan penyakitnya dan memutuskan untuk segera memanggilnya kembali pulang sepuluh hari setelah ia bergembira bisa bermain bola lagi setelah bertahun-tahun tak bermain bola karena kakinya yang patah. Tuhan terlalu sayang pada orang sebaik Andi.
Tiga tahun sudah. Ya, tiga tahun. Tepat tiga tahun hari ini Andi pergi. Aku sudah tak pernah lagi menangis setiap kali mengunjungi makam Andi. Kenapa? Karena kepergian Andi tak perlu ditangisi. Aku tak ingin membuatnya tak tenang disana. Andi selalu mengajarkan padaku untuk selalu ikhlas apapun perkaranya. Dan itulah yang saat ini sedang aku coba lakukan. Ikhlas. Dan sampai saat ini aku merasa belum ada satu orang pun yang mampu menggantikannya. Memang, tak akan ada yang sama sepertinya. Tapi aku selalu memohon agar Tuhan jangan memberikan aku jodoh dulu sampai saatnya aku bisa seutuhnya mengikhlaskan kesendirianku tanpa Andi lagi disisiku. Love u Andi…

by. elyna fazriyati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matur nuwun sudah dibaca postingannya... Monggo dipersilahkan komentarnyaaaa ^_^