Minggu, 31 Juli 2011

Tanpa Judul


“Hujan ini bikin gue kangen banget sama dia. Padahal tadi udah ketemu disekolah. Gue juga udah sempet bercanda sama dia. Bahkan dia sempet ngacak-ngacak rambut gue sampai berantakkan. Ih, gue sebel tapi seneng. Gimana dong, Di?” Tanya Hani pada boneka beruang kesayangannya. Diber, nama boneka beruang kesayangannya itu, yang setiap saat selalu menemaninya saat sedang sendirian dikamar. Menjadi tempat pelampiasan cerita bagi Hani meskipun ia tau bahwa Diber hanyalah sekedar boneka yang nggak bisa hidup.
“Sebenarnya gue sayang banget sama dia, tapi nggak bisa ngomongnya, Di. Takut kalo dia nggak sayang. Mungkin sayang, tapi Cuma sekedar sayang sama temen, bukan sayang sebagai rasa cinta pada seseorang. Udah gitu kalo diliat-liat, Andra kayaknya suka sama Melis deh. Huh…gimana ya?” ucapnya sambil memeluk Diber dengan erat.
Andra, seorang cowok yang biasa yang disukai oleh Hani. Nggak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Hani kalau ia akan suka pada cowok yang bernama Andra itu. Karena selama ini hubungan mereka memang cukup akrab, namun hanya sebatas teman. Apalagi mereka juga udah kaya kakak adik. Hani panggil Andra dengan sebutan abang, dan Andra tetap panggil Hani dengan sebutan Hani (nama asli tanpa ada yang berubah).

Namun setelah beberapa lama mengakrabkan diri dengan Andra, Hani merasa ada sesuatu yang berbeda saat ia dekat Andra. Ia selalu gelisah setiap kali Andra nggak berbicara atau bercanda sama dia. Hani juga suka ngelamunin Andra tiap kali lagi nggak ada kerjaan dirumah. Belum lagi sikap Hani yang tiba-tiba jadi uring-uringan setiap kali Andra deket sama makhluk hawa lainnya. Awalnya Hani nggak sadar apa penyebabnya. Tapi setelah ia berkaca didepan cermin selama berjam-jam, Hani menyadari bahwa ada perasaan lain yang bukan hanya menganggap Andra sebagai teman biasa. Selama beberapa menit Hani memejamkan matanya, mencoba akan ada bayangan apakah yang terlintas dipikirannya. Dan setelah membuka mata, ternyata bayangan Andra yang hadir. Ia pun melihat matanya sendiri didepan cermin. Hani merasa bahwa matanya itu memberi isyarat bahwa ia sedang jatuh cinta. Hani pun tau perasaannya sekarang. Yang jadi masalah, apakah Andra memiliki perasaan yang sama seperti Hani?
Pikiran Hani kembali pada Melis, cewek yang menurutnya lebih akrab dengan Andra daripada dirinya. Hani menduga bahwa Andra mungkin saja menyukai Melis. Begitu juga sebaliknya bahwa Melis juga menyukai Andra. Beberapa fakta sudah dikumpulkan oleh Hani.
Pertama: Dikelas Andra lebih sering ngajak ngobrol Melis daripada dia. Kedua: Andra juga sering banget ngejailin dan ngeledekkin si Melis daripada Hani. Hani Cuma diledekkin dan dijailin kalo si Melis nggak masuk. Ketiga: Andra udah akrab banget sama sahabat-sahabatnya Melis. Ada berita baru tentang Melis, Andra pasti langsung tau yang pertama. Keempat: Melis juga kayaknya suka sama Andra. Kelima: Dimana ada Melis, disitu ada Andra.
Menurut fakta-fakta yang Hani kumpulkan dari penglihatan secara langsung dan tambahan informasi dari beberapa teman lainnya, apa yang ia pikirkan tentang Andra dan Melis adalah benar adanya. Andra suka Melis. Melis suka Andra.
Hani terbenam dalam lamunannya. Diber dibiarkan menemani disamping lamunannya. Ia masih saja melamunkan Andra, hingga akhirnya ia terlelap ditengah suara derasnya hujan yang membasahi bumi malam ini.
@        @        @

“Han, gue duduk disini ya?” Tanya seorang cowok yang membuat jantung Hani berdegup lebih kencang.
“I…i…i…iy…iya. Iya. Iya duduk disini aja.” Dengan seketika Hani merasa gugup sekarang tiap kali bertemu dan berbicara dengan Andra. “Eh, tapi ntar Melis duduk dimana?” Tanya Hani setelah sadar dari rasa gugupnya.
“Melis nggak masuk. Sakit.”
“Sakit? Sakit apa? Kok bisa? Kemarin kan pulang lebih sore dari Hani.”
“Mungkin kecapekan. Biasalah orang kaya dia tuh selalu cari kerjaan yang malah bikin dia sakit.”
“Kerjaan? Emang dia kerja apaan?” Tanya Hani dengan polosnya.
“Ya, dia kan orangnya males pulang kerumah. Broken home gitu deh. Jadinya, dia selalu pulang sore buat menghindar dari keadaan rumah yang membosankan. Udah gitu disekolah, eskul apa aja dia ikutin. Pasus, ikut. Pramuka, ikut. Rohis, ikut. English club and Nihonggo juga ikut. Karate, ayo! Klub atletik, ikut juga. Gimana nggak capek? Kalo yang dikerjain eskul yang berat-berat kaya gitu. Harus menggunakan seluruh tenaga, jiwa dan raga tau!”
“Ih, lebay ngomongnya!!” ledek Hani.
“Eh, siapa yang lebay? Emang bener kok. Eskul kaya gitu tuh harus menggunakan seluruh dan segenap tenaga, jiwa dan raga. Nggak kaya lo yang Cuma ikutan satu eskul aja!” Andra membela diri.
“Huuuu… kamu kan juga Cuma ikut satu eskul. Cuma ikut klub atletik. Kalo aku kan nggak Cuma satu sebenarnya. Kamu aja yang nggak tau kalo aku juga ikut klub seni teater, PMR dan KIR, selain aku ikut di rohis.” Ucap Hani nggak mau kalah.
“Emang iya?” ledek Andra.
“Iya. Makanya cari tau dong!”
“Ngapain cari tau tentang Hani. Nggak penting deh kayaknya.” Ledek Andra sambil mencubit pipi Hani yang agak gembul. Sementara yang dicubit Cuma bisa cemberut dan memukul lengan Andra dengan manja.
@        @        @

“Tadi pe-ernya apa aja, Han?” Tanya suara diseberang telepon sana.
“Cuma matematika halaman 207, nomer 5 sampai nomer 10.”
“Terus tadi ngapain aja dikelas? Ada tugas apa hari ini? Peristiwa apa yang terjadi pas gue nggak ada, Han? Hahaha…”
“Tadi si Beno diomelin pak Sabab gara-gara nggak bawa tugas seni. Terus ada si jumadi yang dihukum suruh bersihin wc gara-gara telat terus mencoba kabur dari guru BP. Abis itu ada Bu Jamila yang tumben banget nggak masuk. So, kita nggak jadi ulangan biologi hari ini. Ada juga Pak Samawi yang ikut bantuin Bu Ina ngawas tes olahraga yang tes lari 15 keliling lapangan itu lho. Terus…”
“Terus, Andra gimana?” Tanya suara disebrang dengan penasarannya.
“Andra?” Hani merasa lemas saat mendengar nama Andra disebut oleh suara disebrang. Ternyata benar fakta-fakta yang selama ini dikumpulkannya. “Ehm…Andra baik-baik aja. Tadi dia duduk sama gue. Kenapa, Mel?” Tanya Hani dengan penasarannya.
“Ah, nggak apa-apa kok. Cuma mau Tanya aja. Kali aja gitu dia kesepian pas nggak ad ague. Hahahahaha….tapi ternyata ada lo yang nemenin dia dengan setia.”
“Mel, gue mau Tanya sesuatu. Tapi jangan marah ya!” Hani memberanikan diri untuk bertanya tentang perasaannya Melis pada Andra.
“Apa?”
“Ehm…ehm…ehm…aduh, tadi mau Tanya apa ya???” Hani menjadi gugup dan berniat untuk membatalkan pertanyaannya itu. Ia malu jika Melis harus tau bagaimana perasaan Hani sebenarnya kepada Andra.
“Mau Tanya apa, Han? Ayo ngomong aja! Pulsa jalan terus nih menuju penghabisan.”
“Nggak jadi deh. Lupa.” Hani berbohong. Ia nggak sanggup jika harus mendengar pernyataan Melis yang akan sama seperti pikirannya, bahwa Melis memang benar suka dan sayang sama Andra.
“O, ya udah kalo lupa. Makasih ya Hani. Dadah…”
Tut…tut…tut…suara disebrang udah nggak terdengar lagi. Hani menghempaskan tubuhnya diatas kasur dengan sprei berwarna biru muda dikamarnya itu. Kembali ia melamun sambil menatap langit-langit kamarnya.
@        @        @

“Ndra, kenapa lo nggak jujur aja sih sama perasaan lo sendiri? Kan sakit, Ndra kalo lama-lama dipendam terus! Ayo ngomong dong, Ndra!” ucap Melis dengan kesalnya kepada suara yang ada disebrang handphonenya. Andra.
“…” Andra masih terdiam sama dengan detik-detik sebelumnya.
“Ndra, gue rasa dia juga suka sama lo. Nggak usah ragu deh.”
“…”
“Ndra, ayolah! Lo nggak usah munafik. Jangan bilang nggak kalo sebenarnya dihati lo bilang mau. Kenapa sih, Ndra? Apa yang masih lo raguin dari dia?” Melis menjadi semakin kesal. Sudah ia bayangkan kalau seandainya Andra benar-benar ada dihadapannya sekarang, apa yang ada disampingnya pasti akan dilempar ke Andra.
“Ndra. Andra…Andra…ANDRA…WOY NYAUT NAPA KALO DENGER. NGGAK DENGERIN OMONGAN GUE DARI TADI YA???” Melis kesal.
“Apa sih, Mel? Gue nggak budek. Gue denger kok apa yang lo omongin dari tadi.” Akhirnya Andra angkat bicara setelah kupingnya terasa panas saat mendengar terikakkan Melis yang teramat dahsyat.
“Terus?”
“Terus? Terus apanya, Mel?”
“Ya, lo maju dong, Ndra. Tunjukkin kalo lo suka sama dia. Jangan diem aja! Gue jadi gemes tau nggak sih.”
“Gimana caranya?” Tanya Andra tanpa merasa bersalah dengan suara yang begitu polos didengar oleh Melis.
“Ndra, masa lo nggak tau caranya? Deketin dong deketin! Lo samperin dia terus. Kalo bisa sekali-kali lo ajak dia jalan.” Melis udah bener-bener gemes dibuatnya.
“Iya, gue coba besok.”
“Gitu dong!”
@        @        @

Hani merasa canggung duduk satu meja dengan Melis. Ia merasakan hawa aneh dari gelagat Melis yang terlihat makin akrab sama Andra. Belum lagi Andra yang bolak-balik manggil-manggil Melis supaya nyamperin tempat duduknya. Hani jadi risih sendiri. Beribu pertanyaan mulai memenuhi kepalanya.
Apa iya Melis suka sama Andra? Atau Andra yang suka sama Melis? Atau mungkin dua-duanya saling suka? Atau mungkin, jangan-jangan mereka berdua udah bener-bener pacaran? Siapa yang nembak ya? Andra? Atau melis? Terus kapan jadiannya ya? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai memenuhi kepala Hani. Ia nggak sanggup ngeliat Melis dan Andra yang super lengket kaya perangko.
Akhirnya pulang sekolah. Hani merasa lega, karena ia nggak akan lagi melihat pemandangan yang menurutnya nggak mengenakkan lagi sampai esok pagi sekolah  kembali menjelang. Apalagi kalo bukan kedekatan antara Andra dan Melis.
Belum sampai digerbang, Hani langsung dihadang oleh Melis yang segera menariknya ke halaman dibelakang sekolah. Dengan paksa. Hani hanya bisa pasrah.
Sampai dihalaman belakang, Hani terkejut karena ada seseorang yang ternyata sedang menunggu kedatangannya. Dengan bunga mawar ditangan dan seulas senyum yang menawan, orang itu menyambut Hani dan Melis.
“Thanks ya Mel.” Melis menjawab dengan mengacungkan jempolnya. Sementara itu Hani hanya bisa terheran-heran karena Melis pergi begitu saja meninggalkan ia dan seseorang yang menunggunya tadi. Andra.
“A…a…a…ad…ada apa, An?” Tanya Hani dengan gugupnya. Sindrom deg-degan secara tiba-tiba kembali dating saat berhadapan dengan Andra.
“Nih…” Andra memberikan bunga mawar yang sedari tadi dipegangnya. Hani semakin heran. Ada apa ini? Apa maskudnya nih? Kok gini sih? Tanya Hani dalam hati.
Sementara itu yang ngasih bunga lagi sibuk dengan pikirannya yang berusaha untuk merangkai kata-kata indah untuk mengungkapkan perasaannya. Mereka sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing.
“An, ada apa? Kok Melis ngebawa aku kesini? Terus kamu ngapain juga bwa-bawa bunga mawar terus dikasih ke aku? Emang hari valentine? Ini kan udah bulan maret, Ndra.” Tanya Hani untuk memecah kebisuan yang ada.
“Ehm…duh, gimana ya ngomongnya?” Andra yang biasanya jail dan lumayan cerewet, tiba-tiba aja berubah seketika menjadi cowok yang pemalu dan nggak bisa berkata-kata dihadapan cewek yang disukainya.
“Apa, Ndra? Mau ngomong apa?” Tanya Hani dengan penasarannya.
“…” Andra terdiam. Ia masih berusaha untuk merangkai kata-kata.
Hani menunggunya berbicara.
“…” Andra masih belum berkata-kata juga.
Hani masih dengan sabar menunggu Andra untuk berbicara.
“…” Andra benar-benar gugup, sampai-sampai sulit untuk mengeluarkan kata-kata.
“Ndra? Aku mau pulang.” Kata Hani sambil beranjak pergi. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, ada tangan yang menahannya untuk nggak pergi. Andra menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Tiga kali ia melakukan itu. Hani menunggu lagi.
“Aku sayang sama kamu…” Huft, Andra bernapas lega. Kata-kata yang ingin dikatakannya dari tadi akhirnya keluar juga. Andra menunggu. Menunggu Hani bereaksi dengan ramuan kata-katanya barusan.
“Kamu pacaran sama Melis kan?” Tanya Hani.
“Melis? Aku? Aku pacaran sama Melis?” Andra heran mendengar pertanyaan Hani.
“Iya. Kamu kan akrab banget sama Melis.” Tanya Hani dengan wajah polosnya yang membuat Andra sebenarnya ingin tertawa.
“Aku nggak pacaran sama Melis.” Kata Andra sambil menahan tawa.
“Nggak pacaran. Tapi kamu suka sama Melis kan?”
“Nggak.”
“Nggak?”
“Aku nggak mungkin pacaran sama Melis.”
“Kenapa nggak mungkin?”
“Aku…aku…aku sama dia…” Andra nggak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia ingin tertawa. Dan akhirnya tawanya itu lepas. Hani tersenyum heran.
“Aku sama dia nggak mungkin pacaran Hani sayang…”
“Kenapa? Jangan ketawa gitu dong, Ndra ngomongnya! Apanya yang lucu sih?”
“Aku sama dia itu satu ayah, tapi lain ibu. Kita saudara seayah. Ayahku punya dua istri. Jadi aku nggak mungkin pacaran sama dia. Bisa dibunuh aku sama ayah.”
“Saudara? Kalian bersaudara? Satu ayah?” ucap Hani dengan wajah yang nggak percaya.
“Iya. Kita satu ayah, tapi Melis ikut ibunya di Depok dan aku ikut ayah sama ibuku di Bogor. Dan kita berdua emang akur banget kalo ketemu. Kita saling curhat. Dan aku selalu curhat tentang kamu ke dia. Kita nggak pernah berantem meskipun banyak orang berpikir kalo hubungan saudara kayak kita berdua ini nggak akan pernah akur. Tapi nyatanya kita akrab dan deket banget kan? Sampai-sampai kamu sangka aku sama dia pacaran. Hahaha…emang sih nggak ada yang tau kalo aku dan Melis itu satu ayah.”
“…” kali ini Hani yang terdiam. Terhanyut dalam pemikirannya selama ini. Ternyata fakta-fakta yang ia kumpulkan salah semua. Dugaannya nggak ada yang benar.
“Han, Hani. Hani…Hani sayang… kok ngelamun?” Hani tersadar. Hani menatap Andra dalam-dalam dan berusaha merangkai kata sama seperti kata-kata yang Andra ucapkan tentang perasaannya pada Hani.
“Aku juga sayang sama kamu.”
Pelukan mesra pun memantapkan perasaan mereka berdua. Melis yang melihat dari balik gedung, menangis terharu karena bahagia.
“Andra saudaraku.” Seru Melis dengan mantap. Keikhlasan terisi penuh dihatinya.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matur nuwun sudah dibaca postingannya... Monggo dipersilahkan komentarnyaaaa ^_^