Minggu, 05 Agustus 2012

Pak Guru


“Ada guru baru? Serius lo? Yang ngegantiin Pak Salam ya? Guru matematika kita yang aneh banget itu kan?” kata Seli dengan begitu semangatnya saat ia tau ada seorang guru baru, cowok, yang akan menggantikan guru matematikanya yang sekarang sudah menjadi kepala sekolah di sekolah lain.
“Wew…gue seneng tuh kalo gurunya cowok.” Seulas senyum licik menghiasi bibir Seli.
“Kenapa, Sel? Mau lo gebet ya? Mau lo jadiin pacar yang ke berapa, Sel?” Tanya Rahma.
“O…no, no, no… kali ini nggak kaya gitu kok. Secara dia kan guru baru, harus kita kasih sambutan dong. Dan gue tau sambutan kaya apa yang pantes buat guru matematika baru itu.” Rahma mulai mengerti senyum licik yang menghiasi bibir Seli yang mungil itu. Hawa jahat bin usil bin jail sudah mulai terasa dari tubuhnya Seli. Rahma hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya itu. Seandainya dia bukan teman sejak kecilnya Seli, mungkin nasib Rahma akan sama seperti korban-korbannya Seli yang setiap hari di kerjain terus sama Seli.
@        @        @


Pertama kali masuk SMA, Seli pernah ngerjain kakak kelas yang marahin dia gara-gara telat. Waktu itu Seli disuruh berdiri menghadap tiang bendera sambil hormat di bawah teriknya matahari pagi. Baru beberapa menit disuruh berdiri, Seli udah nggak tahan. Dia langsung pura-pura pingsan. Kakak kelas yang menghukum Seli pun dikenai sanksi dan hukuman dari ketua pelaksana MOPD. Pas Seli tau, dia langsung ketawa ngakak dan bersyukur atas hukuman yang dikasih ke kakak kelasnya itu.
Belum lagi pas dia ngerjain guru fisika yang lagi ngajar. Seli iseng banget. Dia ngelempar kertas ke kepala Pak Nandar, guru fisikanya itu. Seketika Pak Nandar langsung berhenti menulis dipapan tulis. Beliau langsung ngeliat murid-murid di sekililingnya. Berharap menemukan siapa pelaku yang sudah melempar gumpalan kertas ke kepalanya yang plontos alias botak nan licin itu. Tak terlihat. Pak Nandar pun melanjutkan pelajarannya yang sempat terhenti gara-gara bola kertas tadi. Beberapa menit berlalu, bola kertas itu kembali melayang ke arah kepalanya. Pak Nandar kembali terusik. Ia kembali melihat ke sekelilingnya. Tak menemukan pelakunya lagi, Pak Nandar meneruskan pelajarannya. Namun kali ini beliau langsung siaga 1. Saat bola kertas itu kembali melayang, Pak Nandar langsung berbalik dan melihat tangan Seli mengarah ke atas. Bola kertas itu tepat mengenai hidung mancung Pak Nandar. Seketika Pak Nandar langsung menyuruh Seli untuk keluar dan tidak boleh mengikuti pelajarannya Pak Nandar selama tiga kali pertemuan.
Terus ada lagi pas dia nggak dikasih pinjem catatan biologi sama Ramos. Besok paginya, Seli taruh permen karet dikursinya Ramos. Nina yang tau kejadian itu langsung dikerjain juga sama Seli biar dia diem dan nggak cerita sama siapa-siapa. Pas lagi pesen bakso, Seli kasih sambel cabe yang dia bawa hasil racikan nyokapnya yang sumpah pedes buangett! Nina nggak curiga pas Seli yang nganterin pesenan baksonya. Baru makan satu bakso, lidah Nina langsung melet-melet gara-gara kepedesan.
Setau Rahma, Mami dan Papinya Seli kalem banget. Pendiem dan nggak banyak tingkah. Tapi nggak tau nih kenapa sama anaknya. Bahkan Rahma sempat mengira kalo Seli bukan anak kandung dari Mami dan Papinya. Tes DNA pun sempat dilakukan. Tapi ternyata, terbukti bahwa Seli benar-benar anak kandung dari Mami dan Papinya yang super lembut itu. Semua juga nggak ada yang mengira.
@        @        @

“Sel, lo mau ngapain?” Tanya Rahma saat melihat Seli menuangkan air minumnya didepan pintu.
“Woy, buruan pada masuk ke kelas kalo lo semua pada mau selamet! Daripada ntar celaka!” teriak Seli pada teman-temannya yang masih diluar. Rahma mulai mengerti.
“Sel, awas kalo gurunya sampai geger otak!!” Rahma mengingatkan sahabatnya yang sudah mulai keterlaluan jahatnya saat ngerjain orang. Sementara yang diingatkan Cuma senyum-senyum sambil ngangguk-ngangguk.
Bel berbunyi. Seli menanti guru baru itu dengan gembira. Ia membayangkan apa yang akan terjadi pada guru barunya itu.
Dan benar. Saat seseorang membuka pintu dan mulai memasuki kelas, suara orang jatuh terdengar sangat keras. Menggema di ruangan itu. Seli sangat senang. Tapi tunggu dulu! Ternyata yang masuk itu bukan guru barunya, melainkan Bu Sonia yang merupakan guru BP disekolahnya. Bu Sonia bermaksud masuk terlebih dahulu untuk mengenalkan guru baru pada murid-murid kelas dua belas ipa tiga ini. Namun sayang, nasib naas menimpanya.
Nggak lama, seorang cowok berpostur tubuh tinggi dengan setelan kemeja yang rapih masuk ke kelas yang sedang gaduh itu dan mencoba membantu Bu Sonia untuk berdiri.
“Oh My God…” teriak Seli. Ia teringat akan seseorang yang ia kenal. Mulutnya masih ternganga saat melihat sosok yang membantu Bu Sonia berdiri itu.
“Mampus lo, Sel!!” bisik Rahma pada Seli. Namun Seli tidak mendengarnya. Ia masih terfokus dengan seorang cowok yang memapah Bu Sonia. Pikirannya kembali pada masa-masa SDnya dulu.
@        @        @

“Mi, itu siapa yang lagi duduk dan main catur sama papi?” Tanya Seli pada Maminya yang sedang mempersiapkan makan siang.
“O…itu Kak Yoga. Anak temannya papi. Seli mau kenalan sama Kak Yoga? Ayo mami kenalin sama dia!” Seli menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebenarnya gadis kecil yang masih duduk di kelas lima SD ini ingin sekali berkenalan dengan cowok yang bernama Kak Yoga itu, tapi ia terlalu malu.
“Kak Yoga itu baik banget lho, Sel. Dia juga pinter. Sayangnya keluarga Kak Yoga itu keluarga yang kurang mampu. Nah, karena Papi teman dekat papanya Kak Yoga, Papi berusaha untuk membantu keluarganya. Papi membiayai sekolahnya Kak Yoga sampai lulus kuliah, sayang.” Mami Seli bercerita dengan panjang lebar. “Kak Yoga itu anak yang pintar, papi percaya bahwa dia nggak akan sia-sia membiayai sekolahnya Kak Yoga. Papi yakin kalau Kak Yoga akan menjadi orang sukses nantinya.”
“Karena pintar ya, Mi?” Seli bertanya dengan lugunya. Sang Mami mengiyakan sebagai jawaban dari pertanyaan anaknya itu.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Kak Yoga jadi sering main kerumah. Bahkan sampai menginap. Seli yang tau kalau Kak Yoga mau menginap langsung senang bukan kepalang. Sebagai anak yang masih berumur sepuluh tahun, Seli hanya tau bahwa Kak Yoga adalah idolanya. Seorang cowok yang sangat dikaguminya. Namun sebenarnya, seandainya ia sudah mengerti, Seli pasti akan tau kalau sebenarnya perasaan kagumnya itu adalah perasaan cinta yang ia rasakan sebagai seorang cewek. Bukan sebagai seorang anak kecil.
“Seli mau main apa?” Tanya Kak Yoga saat bermain dengan Seli dihalaman belakang. Seli berpikir. Ia merasa diam saja sudah cukup asalkan bisa bersama-sama terus dengan Kak Yoga. “Main kuda-kudaan mau?”
Seli mengangguk. Gadis kecil itupun langsung naik ke punggung idolanya itu. Berputar-putar sambil berkeliling halaman. Asyik.
Malam harinya saat Seli ingin memejamkan matanya, Kak Yoga menyempatkan diri untuk membacakan sebuah Cerita untuknya. Cerita tentang Cinderella, tiga pendekar pedang, jack dan kacang ajaib, aladin, juga cerita-cerita lainnya. Seli sangat senang ketika Kak Yoga mengekspresikan setiap tokoh yang sedang diceritakan. Bahkan Seli sempat terlelap dipangkuannya Kak Yoga.
Ketika Seli lulus sekolah dasar, Kak Yoga dapat kesempatan untuk belajar di negeri orang. Kak Yoga dapat beasiswa untuk kuliah di Oxford. Wew…bangganya Mami dan Papinya Seli. Tapi tidak dengan Seli. Ia harus menahan kesedihannya yang akan ditinggal oleh Kak Yoga untuk beberapa tahun lamanya. Seli hamper menangis saat Kak Yoga berpamitan, tapi air matanya ia tahan sampai Kak Yoga pergi. Ia tak ingin membuat Kak Yoga berat hati untuk meninggalkan mereka semua. Mami dan papi juga tidak ada yang menangis. Mereka tertawa bahagia dan memberi banyak nasehat untuk Kak Yoga.
@        @        @

“Seli, ada yang mau Papi kasih tau sama kamu. Dan papi harap kamu menerima dan menuruti perkataan mami dan papi ini ya!” kata Papinya Seli dengan begitu tegangnya. Seli terdiam namun ia mengangguk memberi tanda bahwa ia akan menuruti perkataan dari Papinya itu.
Suasana menjadi hening sesaat. Seli masih menunggu Papinya untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya setelah sekian lama terdiam. Tak lama, setelah menghembuskan nafas panjang Papinya mulai mengeluarkan kata-kata yang sejak tadi sudah ditunggu oleh Seli.
“Sebelumnya Papi dan Mami mau minta maaf sama kamu. Kami sudah lancang mengambil hak kamu untuk memilih jalan hidupmu sendiri. Mungkin kamu akan menolak apa yang akan kami beritahukan ini. Tapi Papi mohon kamu harus mau mengerti.”
“To the point aja, Pi!” Seli tak sabar untuk langsung ke inti pembicaraan ini.
“Papi sama Mami kan bersahabat karib dengan orang tuanya Kak Yoga. Dan kami nggak pernah berjanji, tapi kami sepakat untuk mempererat hubungan persahabatan kami ini. Dengan cara…” Papinya Seli mulai ragu untuk mengatakan kata-kata selanjutnya.
“Menjodohkan aku dengan Kak Yoga? Iya kan?” Tanya Seli dengan santainya. Kata-kata yang ia ucapkan ini sebenarnya terlontar sendiri dari mulutnya tanpa harus dipikirkan.
“Kok kamu tau?” Tanya Mami dengan heran.
“Udah ketauan banget, Mami, Papi. Rata-rata kalo orang tua punya sahabat karib pasti anaknya akan dijodohkan satu sama lain. Iya kan? Aku kan sering nonton film juga. Jadi sedikit tau deh.”
“Terus?” kata Papi dengan penasaran.
“Terus apa lagi, Pi? Ya udah kalo emang itu udah keputusan Papi dan Mami. Ya aku juga nggak bisa nolak. Mungkin itu udah kebijakan Mami dan Papi untuk memberikan yang terbaik untuk aku. Aku oke-oke aja kok.” Jawab Seli dengan santai. Nggak ada satupun yang berubah dari cara bicara atau sikapnya. Biasanya kebanyakan orang yang mengetahui kalau mereka akan dijodohkan pasti akan berubah sikap dan cara bicaranya terhadap orang-orang disekitarnya.
Sebenarnya dalam hati Seli memberontak. Ia tak ingin dijodohkan. Kalaupun ia ingin bersama dengan Kak Yoga, Seli ingin Kak Yoga sendiri yang mengucapkan kata cinta langsung dari mulutnya. Tapi demi bersama-sama dengan Kak Yoga, Seli mengiyakan perjodohan itu.
@        @        @

“Seli lg aP??
Sender: Kak Yoga”
“Lg iseNg aJjaH nih sMs`n sM oRg…
Sender: seli”
“B`arti iseNg doNg sMsan sM kaKak???
“kLo sM kaKaK siH g iSeng. Tp sNeng…^_^  kakaK kpN pLg? oRg” daH pd KanGen sm KaKak…”
“Sapa ajA yg kaNgen? kakaK haRap siH peri keciL kakaK ini jg kaNgen sm KaKak.. gmN skLh`a? kt RaHma kMu jd jail bgt y sKrg? Knp siH saYang???”

Seli tersenyum bahagia saat membayangkan seseorang yang ia rindukan berada disampingnya. Namun sayang hal itu nggak mungkin. Kak Yoga baru pulang tahun depan. Saat ini Seli sudah duduk di kelas dua belas SMA dan ia sudah menahan rindunya selama beberapa tahun. Enam tahun. Ya, Enam tahun. Sejak ia tau bahwa ia dijodohkan dengan Kak Yoga.
Kak Yoga sendiri sudah tau sejak lama kalau ia akan dijodohkan dengan Seli. Namun saat Kak Yoga tau Seli masih seorang anak kecil yang belum tau apa-apa tentang cinta, ia tak bisa berbuat apa-apa. Kak Yoga dengan sabar menanti saat peri kecilnya yang bernama Seli itu tumbuh dewasa. Dan mungkin, saat ini peri kecilnya itu sudah beranjak dewasa seiring dengan perasaannya yang mulai mengenal cinta.
Sejak tau keduanya telah dijodohkan, Seli dan Kak Yoga mulai mengakrabkan diri. Mereka saling mengenal lebih dalam lagi satu sama lain. Mereka jadi lebih sering berkomunikasi dengan kata-kata mesra dan panggilan sayang. Entah sejak kapan mereka tak sadar kalau mereka sudah saling menunjukkan rasa perhatian dan mencoba untuk saling pengertian. Layaknya sebagai seorang pacar.
@        @        @

“Sel? Seli? Seli? SELI!!!” teriak Rahma yang kesal dengan Seli karena dari tadi  perkataannya nggak di dengar sama sekali. Dan disaat itu juga Seli dipanggil untuk maju kedepan kelas. Menghadap Bu Sonia yang killer dan…dan guru baru yang sebenarnya nggak baru buat Seli.
Dengan langkah gontai Seli maju kedepan kelas. Ia membayangkan akan dihukum oleh Bu Sonia yang terkenal sadis dalam memberi hukuman pada murid-murid yang nakal dan jail seperti Seli. Ini untuk yang kesekian kalinya Seli dihukum oleh Bu Sonia. Dan mungkin berbagai jenis hukuman yang diberikan oleh Bu Sonia sudah diberikan semua pada Seli.
Tepat disamping Bu Sonia, Seli menangkap senyum sambil menahan tawa dari seorang laki-laki yang membuatnya jengkel. Harusnya dia yang jatuh tadi, batin Seli dengan kesalnya.
“Biar saya yang kasih hukuman sama dia, Bu. Saya mau tau dia ini anaknya kaya gimana.” Kata guru baru itu.
“Tapi…” Bu Sonia ragu untuk memberikan ijin pada guru baru itu untuk memberikan hukuman pada Seli. Namun dengan wajah yang meyakinkan, akhirnya Bu Sonia mengijinkannya. Awalnya Bu Sonia takut kalau-kalau pak guru baru itu akan kewalahan menghadapi keusilan Seli, karena menurutnya, ia yang merupakan guru yang ditakuti semua murid aja udah kewalahan apalagi pak guru itu yang baru disekolah ini.
@        @        @

Bu Sonia heran. Sudah hampir satu jam, Seli diruang BP tanpa Bu Sonia tetapi dengan Pak guru baru itu. Tidak terdengar teriakkan-teriakkan Seli yang menggemparkan satu sekolahan. Suasana aman dan terkendali. Bagaimana bisa? Batin Bu Sonia.
Sudah dua bulan lamanya Seli tidak berkomunikasi dengan Kak Yoga. Sampai akhirnya, guru baru ini datang. Dialah Kak Yoga. Suasana hening menyelimuti ketika mereka berada didalam satu ruangan.
“Kapan pulang?” Tanya Sela dengan ketusnya.
“Udah dua bulan yang lalu.”
“Kenapa nggak bilang?” Tanya Seli dengan marah.
“Mau kasih kejutan aja.”
“Dengan jadi guru?”
“Ya nggak juga sih. Kebetulan dapat lowongan kerjaannya jadi guru. Ya udah deh. Kenapa emangnya? Nggak suka kalo kakak jadi guru. Nggak mau diajarin sama tunangannya sendiri?”
“…” Seli terdiam. Antara marah, kesal, sedih, senang, dan semua perasaannya yang campur aduk sekarang.
“Jadi?” Tanya Kak Yoga.
“Jadi apa?”
“Marah?”
“Nggak.”
“Kesel?”
“Nggak.”
“Benci?”
            “Nggak.”
“Kangen?”
“Nggak. Eh…apa tadi? Kangen? Kalo kangen sih iya.”
“Terus?”
“Terus apa?”
“Jadinya gimana?”
“Apanya?”
“Hubungan kita. Disekolah kita guru dan murid. Tapi diluarnya, kita tunangan.”
“Ya, jalanin aja. Aku udah kelas tiga kok. Jadi nggak akan lama-lama menyembunyikan hal ini dari semuanya. Sebentar lagi kan mau lulus, terus kuliah deh.”
“Jangan usil lagi ya!”
“…” Seli terdiam. Sebenarnya ia ingin memeluk cowok yang saat ini ada dihadapannya. Tapi ia tahan, karena itu bisa jadi masalah jika ada yang tau.
“Kenapa sih? Kok jadi usil gitu. Kebangetan banget deh jailnya! Tadi kalo aku yang jatoh gimana? Geger otak gimana? Ntar kamu bingung kan?” ledek Kak Yoga.
“Mami sama Papi tuh sibuk terus. Mereka masih perhatian sama aku. Tapi aku sepi. Nggak punya saudara. Nggak ada yang bisa diajak bercanda, dan nggak ada yang bisa diajak berantem. Jadi, aku lampiaskan aja dengan keusilanku. Udah gitu kalo lagi kangen sama Kak Yoga, aku jadi makin usil. Biar dapat perhatian.”
“Emang kakak nggak pernah perhatian?”
“Perhatian. Tapi kan nggak secara nyata. Nggak dihadapanku langsung.”
“Ya udah sekarang kakak janji. Kakak akan kasih perhatian sama kamu secara langsung. Gimana?”
“Oke.”
“Keluar yuk!”
“Tapi…”
“Tenang aja. Kakak yang atur semuanya. Kamu tinggal percaya aja sama kakak!”
Dengan langkah gembira Seli keluar dari ruangan yang sebenarnya membosankan itu. Tapi Kak Yoga mengubahnya. Mengubahnya menjadi ruangan sebagai tempat melampiaskan rindu.
Bu Sonia terheran. Seli keluar dengan senyuman manis mengembang dibibirnya. Tapi tak ambil pusing.
Sekarang, hanya ada hubungan rahasia antara guru dan murid yang nggak diketahui satu orangpun, kecuali Rahma. Hubungan rahasia yang penuh cinta ini pun dimulai, saat langkah kaki Seli dan Kak Yoga keluar ruangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matur nuwun sudah dibaca postingannya... Monggo dipersilahkan komentarnyaaaa ^_^